Gunung Bahonglangi
Aku tidak pernah merencanakan
sebelumnya pada perjalanan ini. Perjalanan
yang tak pernah kusangka akan membuat semuanya berubah. Seakan alam
memberitahuku kepada hakikat hidup yang sesungguhnya. Aku merasa sangat bahagia, sekalipun berada di
tengah hutan atau diatas gunung tanpa gemerlap kehidupan perkotaan. Dan aku
sangat bersyukur memiliki dua pahlawan dalam hidup ini yaitu kaki kanan dan
kiri. Mereka adalah dua pahlawan yang mengantarkanku kepada setiap puncak. Perjalanan
kali ini menapaki puncak misteri gunung Bahonglangi, mungkin masih terdengar
asing. Gunung bahonglangi, terletak di dusun Bahonglangi desa bontojai
kecamatan bontocani kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Menurut kepercayaan
masyarakat setempat Bahong artinya pencakar sedangkan langi artinya langit.
Jadi gunung Bahonglangi diartikan sebagai gunung pencakar langit.
Akses menuju gunung ini cukup rumit
karena jalanannya yang masih terbilang cukup untuk dilewati motor saja. Dan
motor harus mempunyai nyali yang cukup melewati medan yang susah. Perjalanan
saya berawal dari desa Bontojai bersama rekan-rekan pendakian dan ditemani oleh
teman-teman dari desa Bontojai. Rute kali ini yaitu menuju dusun Bahonglangi
atau kaki gunung Bahonglangi dengan waktu tempuh perjalanan 3 sampai 4 jam jalan kaki. Dan kami memilih
untuk jalan kaki karena jalan ke kaki gunungnya juga dalam tahap renovasi oleh
warga.
Pagi itu rasa dingin seakan memilukan
tulang untuk menyiapkan perlengkapan sebelum memulai perjalanan karena
dinginnya pagi. Tetapi karena semangat dari teman-teman aku pun bergegas. Setelah
selesai kami memulai perjalanan, tak lupa pula ritual pertama kami sebelum
memulai perjalanan yaitu, berdoa semoga selalu dalam lindungan sang maha
pencipta.
Dalam perjalanan, kami belajar
memahami kekuatan dan kemampuan diri. Terkadang kami berjalan dalam irama yang
sama. Terkadang satu dua tiga diantara kami berjalan dengan irama stakato yang
lebih cepat. Beberapa berjalan dengan irama slowrock alias lebih lambat. Tidak
ada teman yang merasa lebih gagah satu dari lainnya. Masing-masing menikmati
perjalanan. Melewati jalan menanjak,
setapak dan akhirnya masuk hutan. Tak terasa akhirnya sampai di kaki gunung
dengan waktu tempuh normal. Kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Rasa
capek terbayarkan dengan sunguhan pemandangan nan indah membuat mata kembali
segar, sungguh indah ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Terlebih ketika aku bertemu
dengan adik-adik yang bermain riang gembira di pinggiran sungai kecil, sungguh
indah masa kecil mereka walaupun tidak tersentuh oleh teknologi.
Disana, banyak pelajaran yang
kutemukan. Pelajaran itu datang setiap waktu, bahkan ketika aku terdiam
sekalipun.
Setelah cukup beristirahat kami segera melanjutkan
perjalanan, kali ini jalanannya mulai menanjak. Masuk hutan dan berjalan
diantara rerimbunan pohon. Deru angin yang berhembus tanpa henti, membuat dedaunan
menari-nari. Di tempat yang sedikit datar, kami biasa saling menunggu. Bercanda
sesaat, untuk kemudian berjalan lagi. Terus begitu, sampai tiba di puncak.
Malam, ketika aku memutuskan untuk
keluar tenda dan kudapati angin berhembus sangat kencang. Seakan itu peringatan
untuk tidak menciptakan keributan sehingga menganggu penghuni lain dalam artian
kita tidak menganggu ketenangan di alam. Tapi kepercayaanku hanya satu yaitu
Allah. Allah selalu melindungi orang-orang yang setiap saat selalu
mengingatnya. Karena itu sepatutnya kita selalu jaga sikap entah itu di
kehidupan sehari-hari maupun ketika kita sedang berada di alam.
Dan dari setiap perjalananku aku
semakin menyadari, bahwa yang terpenting aku tak akan miskin sudut pandang.
Yaa, perjalanan ini membuatku semakin kaya, kaya akan pengalaman dan pelajaran
hidup. Dan sering kali juga aku mendadak senang, tersenyum, lalu bersyukur
tanpa alasan. Mungkin hal baik memang tak perlu dipertanyakan alasannya.
****
Teruntuk kawan-kawan yang mengagumkan
Terima kasih, kali ini
perjalananku berkesan